Tawakkal dan Makanan dari Surga Untuk Dzunnun dan Putrinya
Tawakkal dan Makanan dari Surga
Untuk Dzunnun dan Putrinya
Cerita unik tentang Dzunnun al-Misri yang menyibak hikmah di dalamnya. Alkisah Dzunnun Al-Mishri adalah orang yang gemar memancing ikan. Saat bulan puasa, sambil ngabuburit, ia biasa berburu ikan di sungai, ikan yang didapat dari memancing itu lalu dimasak dan dimakan sebagai menu buka puasa. Suatu hari, Dzunun Al-Mishri mengajak anak perempuannya ikut memancing.
Saat putrinya mendapatkan seekor ikan kemudian dia melepaskan kembali ikan tersebut k dalam sungai. Lalu sang ayah berkata " Kenapa kau lepaskan ikan itu nak?
Lalu sang anak menjawab
"Aku tidak rela ayah memakan makhluk yg berdzikir kepada Allah. (Kalo kita mah ga mikir gitu liat nila asem manis aja udah ngiler . Red)
"Lalu apa yg harus kita lakukan nak?
"Sudahlah ayah mari kita bertawakk
al pada Allah.
Saat itulah tiba-tiba putrinya mengingatkan kepada ayahnya yang sufi, 'alim, dan muhadits itu bahwa ikan yang ada di sungai tersebut sedang dan selalu bertasbih kepada Allah. Kalau sampai ikan tersebut diambil, disembelih lalu dimakan maka mereka akan berhenti berdzikir kepada Allah. Akhirnya, Dzunun Al-Mishri mengiyakan perkataan anaknya, lalu pulang tanpa membawa ikan.
Sejak saat itu Dzunnun Al-Mishri 'pensiun' menjadi pemancing dan selalu bertawakal kepada Allah, tentu saja setelah melakukan ikhtiar tanpa mengganggu makhluk Allah yang ada di muka bumi. Akhirnya Allah Swt membalas Dzunun Al-Mishri dan putrinya itu dengan makanan surga, setiap Maghrib selalu datang pasukan elite yang membawa makanan super lezat. "Ini makanan dari Sang Raja untuk kalian berdua," kata pasukan itu.Begitu setiap hari selama 12 tahun (ada yg menyebutkan 30 tahun) maka dzunnun mengira bahwa makanan tersebut adalah pemberian allah sebab sholat, puasa dan ibadahnya.
Setelah 12 tahun berlalu putri Dzunun Al-Misri wafat dan sejak saat itu pasukan elite utusan Sang Raja tidak lagi datang membawa makanan ke rumahnya dan menyadari bahwa anugerah itu merupakan karomah dari putrinya.
Dikutip dari kitab
An Nawadir halaman 25
Penerbit Al Haramain

Komentar
Posting Komentar